28.2.11

perjalananku - Kediri part 2

tubuh ini mendapati duduknya tak jauh dari pintu masuk gerbong empat. angin bertiup kencang karena jendela tak tertutup rapat. ditambah kipas angin yang bertiup bagai mati segan hidup tak mau. disebelahku wanita paruh baya dengan tas necis nya duduk manis melipat kakinya diatas kaki yang lain. didepanku, seorang nenek dan cucunya telah asik tertidur, mungkin sudah dari stasiun wates mereka terlelap. karena tak kudapati mata mereka terjaga ketika di stasiun tugu.

jam dua sudah, mataku tak dapat terpejam ketika lampu-lampu kota terlintas cepat melalui jendela yang sedikit terbuka. mereka telah tertidur. benakku slalu terpikir dia yang ada disana, tujuanku. sepi juga tak ada pengasong lewat, perutku yang sedari sore belum terisi mulai teriak meronta-ronta akan datangnya seonggok daging dan seteguk susu. tak kuasa untuk segera bertemu.

Ngawi, sebuah misterius. berasal dari kata awi, yang berarti bambu. katanya dahulu banyak terdapat pohon bambu disini. perlahan kereta berjalan, seakan menunduk menurunkan tangannya seraya berkata permisi pada kota ini. nenek itu terbangun karena sang cucu menarik baju kusutnya meminta seteguk air yang tersimpan di tas yang dipeluk sang nenek. sang cucu bilang ia akan segera bertemu dengan kakeknya. bibirku yang kelu segera tersenyum dan terlintas dibenaku, indahnya sebuah rasa saling mengasihi diantara manusia. sang cucu, ia ada karena cinta yang dibangun oleh pendahulunya, kakek neneknya. butuh waktu lama hingga lebih dari setengah abad. tak terbayangkan gejolak rasa yang terjadi selama itu, pastinya hanya jiwa-jiwa yang tegar dan sabar lah yang mempu melewatinya. dan juga, saling mengerti.

hasratku untuk sama seperti mereka sangatlah kuat. membentuk keluarga, mengasihi yang tercinta, hingga tumbuh benih-benih hasil karya kita. ia lah yang akan menjadi sumber cinta baru, menyatukan kembali jiwa-jiwa yang mungkin telah sendu.

Rp 60.000, tidaklah mahal bagi mereka yang sehari-hari berjas hitam tampang necis yang selalu menenteng tas kopernya sambil bertelepon di jalan dengan kacamata hitam tertempel di dahi. tapi bagi kami kaum proletar butuh berhari-hari untuk mengabiskannya, terpaksa untuk tidak menghabiskannya. tapi, ia yang disana selalu merindu. aku tak mampu sendiri dan diam berdiri sepi. aku harus berjumpa.

petugas tiketing menepuk pundakku, membangunkanku. Kertosono baru saja lewat dan matahari hampir terlihat. cucu itu telah bangun dan bercanda, cinta itu..kasih sayang itu..telah membuat sang nenek menjadi muda kembali. kembali ku membayangkan masa depan, membayangkan sebuah komitmen yang disepakati berdasarkan rasa saling mengasihi. aku ingin bersamanya. perjalananku ini adalah sebuah proyek panjang yang harus ku lewati satu persatu. berlebihankah? tidak, karena ini adalah visi.

07.12 wib, mentari pagi dan dingin menyambutku keluar melewati pintu yang sedikit kaku. didepanku berdiri kokoh bangunan kecil sisa peninggalan Belanda dengan arsitektur yang persis sama dengan bangunan indis kawasan Bintaran Yogyakarta. ayunan langkah mengawali nafas menghirup udara pagi Kediri. ah, disini ternyata cinta berada.. nuansa yang sama seperti Yogyakarta. perjalanan disini ku awali dengan membuka sebuah peta. sebuah kertas kecil yang baru kemarin sore ku print. langkah sedikit gontai karena tak ada asupan energi sejak semalam. berdiri melihat sekitar, ku putuskan menepi disebuah warung yang bertulis "WC-Kamar Mandi".

sekitar setengah jam dari stasiun Kediri, aku berjalan menuju daerah Nabati. entah karena apa, mereka menyebutnya itu. dan aku tak mau tahu. seorang kakek menunjukkan jalannya. keluar dari stasiun Kediri, segera menuju jalan raya dengan menyusuri rel sepanjang 200 meter. tak sulit bagiku, selalu ada jalan bagi orang yang berani bertanya. tiba di daerah Nabati, terlihat lima atau enam orang menunggu bus sembari berbincang. aku pun masuk didalamnya. lumayan lama menunggu, cukup untuk mengercitkan dahi hingga beribu kali. setengah jam lebih menunggu bus Puspa Indah yang akan membawa ku menuju Pare dengan tarif hanya Rp 4.000.

akhirnya datang juga, dia lah bus yang akan membawaku menuju masa depanku. sementara pikirku seperti itu. tak apa tak dapat bangku untuk duduk. asa dan harapan bertemu sudah membuatku nyaman bagai di sofa. membayangkan kita bertemu, mungkin terharu.

27.2.11

manusia, cinta, dan bau busuk

manusia..
makhluk berakal kadang tak berakal, berbudi kadang tak berbudi..hidup tapi tak sudi mati...

dua hari ini, seorang kawan selalu tertunduk lesu. terkikis oleh detak waktu memburu. ia bercerita, tentang mimpi dan luka hari ini. merintih tertitih dalam sesak dan air mata seraya berkata, "aku patah hati. saat ini aku mati".

selalu diam tanpa arah, tersedak rintik hujan yang meniti dari pagi. sang kawan bicara, "ia selingkuh". tersedak tertunduk dan duduk. tak mampu merangkai kata dan nada, ia bisu. jiwanya menari-nari menyelinap di sesaknya rongga hati yang sebentar lagi hancur berlumur tertelan burung bangkai.

manusia dan cinta. bagai matahari dan bumi, bunga dan kumbang, siang dan malam, tapi bukan aku dan dia. diciptakan untuk membentuk manusia menjadi bijaksana, saling mengasihi dan menghargai. dialah cinta. tapi manusia, memodifikasi dan mengkopinya menjadi ulat busuk yang tak patut masuk dalam serat-serat kayu. burung pun sungkan memakannya.

manusia dan cinta, indah pada awalnya, kelabu ditengahnya dan busuk diakhirnya. ya, serakah!! rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri! tidakkah kau menginginkannya? memendam cinta yang tak sepatutnya sama saja bau busuk! biarlah mereka memilih menciumi busuknya dengan mencari cinta-cinta semu. dan kau jangan bermain-main dengan itu.

seharusnya, jadikanlah cinta peneduh hatimu, ia bermain dikala kau senyum, ia dekat dikala kau jauh, ia putih dikala kau hitam, ia baik dikala kau jahat dan ia ada dikala kau lemah. ia butuh saling percaya, menjaga perasaan, dan menyadari untuknya harus jujur, setia dan bersabar.

pepatah berkata, ada pertemuan ada perpisahan, tapi bukan perpisahan kesedihan yang memekikan telinga kala air mata dan rintih menetes dari seluk-seluk tubuh. melainkan perpisahan yang mengantarkan ihklas dan harapan baru bagi jiwa-jiwa yang ditinggalkannya.

*dedicated to my friend, Engga Tathak. 00.48 am - 28 feb 2011.

19.2.11

menunggu Malabar - Kediri part 1

23.16 wib Stasiun Tugu
ketika itu sepi sekali. segemelintir orang melewati tubuh ini. tiga anak kecil masih bermain-main ditemani ibunya, sepertinya mereka menunggu ayahnya pulang. aku duduk pada bangku yang sedikit lusuh dari pada lainnya. air hujan sedikit menetes akibat hujan sore tadi. malam ini sepi. teriakan anak kecil yang gembira sedikit mengurangi sunyi. belum tidur juga mereka, anak sebayanya mungkin telah nyenyak dipelukan bantal dan kasur. tumpukan kardus untuk korban merapi masih berjejer panjang sepanjang peron. menumpuk seakan tidak ada yang dituju. terlihat beberapa relawan hilir mudik mengontak rekannya yang mungkin masih berada di pengungsian. aku sedikit ngantuk namun tak mau tidur untuk menikmati malam di jogja ini.

23.27 wib Stasiun Tugu
anak-anak kecil tersebut bermain semakin menjauh, melewati peron-peron. si kecil tidak mau kalah, segera berlari menyusul 2 kakaknya. si sulung sedang asik bermain yoyo sambil bersender pada badan kereta. sementara anak kedua tersenyum melihat kehebatan kakaknya bermain.

23.30 wib Stasiun Tugu
akhirnya tiba, ia datang dari bandung. sebentar merapat di peron menungguku. ia berhenti dan diam sejenak. announcer terdengar dari kejauhan. entah apa yang dikatakannya, aku tak dengar. aku tuli, aku bisu.

22.10.10

05.47 am

5.47 am

tak seperti hari lain
matahari melewatiku begitu saja
oh mengapa tidak untuk hari ini
karena ia mengerti ku rindu dirimu kini

alangkah baik kasurku pagi ini
membangunkan jiwa-jiwa rindu diremangnya pagi
menyebarkan wangi tubuhnya semerbak mentari
ku harap tak kan hilang sehari

Sudah tak bisa memejamkan mata
Batin ku sesak terisi bidadari
Menyelinap memaksa memecah hening pagi
Hanya tuk mengingat kau pergi detik ini

satu jam limabelas menit
detik terakhir dia meninggalkan kota ini
tak tahu harus berbuat apa
manusia hanya berencana, manusia yang lebih tua lah yang berkuasa

aku ingin memecah waktu
membekukannya menutup hingga rapat
membiarkan orang-orang berhenti bergerak
cukup aku dan dia menghabisi detik detiknya

lima puluh tujuh menit
detik terakhir dia meninggalkan kota ini
otakku bekerja keras
haruskah berjumpa untuk yang kesekian kalinya

tiga puluh tiga menit
ia menelepon ku.....terima kasih tuhan...:P

2.7.10

Gua Seropan, antara studi dan rekreasional (part 3)

Lupakan dulu pertanyaan-pertanyaan pada tulisan sebelumnya. Saatnya kembali ke sisi petualangan. Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB, persiapan menuju lorong upstream dilaksanakan. Tiga buah tabung selam dan dua set peralatan diving dikeluarkan. Dua set tersebut digunakan untuk dua orang saja, sisanya mengenakan life vest agar tidak tenggelam. Fin, masker dan snorkel sudah cukup untuk menjelajari rute berat ini, dan tentunya ditambah alat dasar caving. Sambil mempersiapkan peralatan, kami mencuri-curi waktu dengan memasak beberapa sereal sebagai pengganjal perut agar tidak terlalu kedinginan saat melintasi rute upstream ini. Karena seperti perkiraan sebelumnya bahwa rute atas airnya lebih dingin karena kelembaban nya lebih tinggi bila dibandingkan dengan area sekitar downstream dan chamber.
Hanya butuh setengah jam untuk mempersiapkan peralatan, kami lalu beranjak turun ke bendungan. Secara berurutan diawali oleh Mada, Shinat, Irsyad, Danang dan saya. Sebagai permulaan, Mada berenang lebih awal untuk melihat batas ketinggian lorong stalaktit dengan permukaan air. Kami menunggu dan melihatnya dari kejauhan. Tidak lama terlihat ia mengalami masalah, tersedak air sungai! sepertinya ia kaget dengan rapatnya jarak antara stalaktit dengan permukaan air. Jaraknya sekitar 15cm, sehingga jika melewati area tersebut yang terlihat dari tubuh kita hanya mulai dari hidung hingga kepala. Memakan waktu sekitar 20 menit bagi kami melewati lorong tersebut. Dan tubuh sudah mulai menggigil.
Usai melewati lorong tersebut, kami ditakjubkan oleh bentukan alam yang berbeda dengan area sebelumnya. Pemandangan yang bisu, yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang berani dan mampu. Sebuah chamber dengan tonjolan stalaktit dan stalagmit dengan teras-teras yang terlapisi oleh tanah cokelat. “Seperti di negeri cokelat!” khayalku. Saya mencoba mendekat memegang setiap lapisan tanah tersebut, bentuknya sangat halus dan dari tingkatan gumpalannya termasuk jenis lanau, yang lebih halus dari lempung. Andai saja rasa tanah-tanah tersebut manis, milyaran semut pastilah mendirikan kerajaan cokelatnya disini. Lupakan khayalan tersebut dan kembali pada realita saat ini yang menggigil oleh dinginnya air.
Lima puluh meter kedalam, terdengar suara bising seperti genset. Pikiran saya tertuju pada turbin-turbin yang memancang dari atas gua, seperti kata cerita sang pemilik base camp. Dan benar ternyata tiang-tiang besi berdiameter 50cm menancap jauh kedalam bumi yang berfungsi menyedot air sungai gua ini. Bunyi suaranya memecah kesenyapan dan gelapnya gua ini. Tidak jauh, sekitar 50 meter dari tiang-tiang tersebut, lorong terhenti oleh dinding gua, aliran sungai sudah tidak terlihat lagi, dan kami belum mampu untuk menjelajahinya lebih dalam karena peralatan yang belum memadai disertai kondisi air yang zero visibility. Kembali ke chamber utama, mematikan cahaya yang tersisa, kami pun tidur pulas. Keesokan harinya diujung mulut gua, cahaya kecil mulai terlihat. Tampak seorang lelaki tua memanggul cangkulnya yang telah berkarat. Kami telah sampai di luar dan kembali ke basecamp untuk siap-siap kembali ke kota Yogyakarta tercinta.

14.5.10

Gua Seropan, antara studi dan rekreasional (part 2)

Kami telah berada persis di depan pintu masuk gua, istirahat sejenak sambil membuka gembok yang mengunci mulut gua tersebut. Gua tersebut sengaja dikunci oleh warga agar tidak ada orang yang sembarang masuk ke dalam. Karena sungai bawah tanah yang berada didalam gua sangat diandalkan oleh warga untuk kebutuhan hidup, maka warga menjaga-jaga agar sungai tersebut tidak dirusak ataupun diracuni oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Akibat kelebihan beban maka kami berinisiatif untuk membawa perlengkapan dengan cara 2 kali bolak-balik. Beberapa barang kami tinggal di mulut gua yang selanjutnya akan diambil setelah barang yang pertama selesai diangkut kedalam.


ketika berada di lorong upstream

Tak terasa waktu telah menunjukkan sekitar pukul 17.00 WIB. Jarak dari mulut gua hingga entrance sekitar 200 meter, melaluinya harus melewati lorong-lorong yang sempit hingga kami menunduk dan jongkok. Kadang dibeberapa titik terdapat genangan air yang membuat kami terpaksa untuk basah-basahan. Belum lagi beban yang berat tersebut ditambah dengan masuknya air hingga basah membuat beban semakin berat saja. Perjalanan begitu terasa disetiap detiknya, bentukan lorong dengan dekorasi stalaktit dan stalagmit serta beberapa chamber kecil membuat kami berada di dunia yang berbeda, penuh dengan hiasan alam. Sungguh indah.


di sekitar sum

Perjalanan begitu lambat hingga sekitar 45 menit kemudian kami tiba di entrance, ruang utama. Entrance ini lumayan besar dengan luas sekitar 20 x 9 meter dan tinggi langit-langit sekitar 12 meter. Kami beristirahat sejenak melemaskan otot yang sejak tadi menegang karena membawa beban yang berat. Cahaya sekunder yang berasal dari senter led saya nyalakan, menambah penerangan yang sebelumnya hanya diterangi oleh senter biasa. Ada perbedaan yang saya rasakan, ternyata napas kami tersengal-sengal. Sangat terasa sekali jika kita berada di ruangan hyper-CO2, dimana udara karbondioksida memiliki kapasitas yang lebih besar daripada oksigen. Gejala yang akan ditimbulkan adalah pusing dan sedikit mual. Setidaknya butuh sekitar 1 jam bagi kami untuk beradaptasi dengan kondisi udara seperti ini.


stalaktit

Sembari menyesuaikan diri, kami mempersiapkan peralatan yang akan dibutuhkan. Di depan terlihat bendungan yang memisahkan aliran sungai gua pada upstream dan downstream. Di bagian downstream, aliran sungai sangat deras. Hingga ketika saya mencoba bermain disana justru seringkali terbawa arus dan harus berpegangan erat pada batu-batu yang tajam. Kegiatan pertama adalah reconnaissance aliran downstream, dimana terdapat sebaran tulang belulang hewan. 4 orang kawan telah berada di sisi downstream bendungan, tak mau ketinggalan saya pun bergegas melewati bendungan tersebut.


turbin yang menembus gua

Tidak mudah ternyata, pada sisi landai bendungan terdapat air tipis yang tidak dalam, namum memiliki arus yang sangat kuat membuat kaki saya selalu terpental dan harus menginjak bendungan tersebut lebih kuat. Tiba di ujung bendungan saya bergabung dengan mereka. Turun perlahan meluruskan kaki sembari mengecek kedalaman sungai. Lumayan dalam ternyata, sekitar sebatas pinggang hingga dada. Namun pada beberapa titik ada yang hanya sebatas betis saja.

arus downstream

Tidak jauh, kami hanya menyusuri sungai sejauh 60 meter. Namun temuan yang kami lihat justru sangat mencengangkan. Di setiap dinding maupun tonjolan batu yang berada di tengah sungai terdapat singkapan-singkapan fosil tulang hewan vertebrata seperti kuda nil, babi hutan, kerbau dll. Mulai dari tulang tibia, femur, vertebrae, semuanya dapat terlihat pada singkapan tersebut. Seolah-olah mereka muncul dari dasar sungai memperlihatkan eksistensi mereka di gua ini. Sedikit menarik bagi mereka yang hanya rekreasional menelusuri gua Seropan ini. Namun bagi kami selaku akademisi yang kebetulan temuan tersebut sangat terkait dengan bidang keilmuan kami, hal ini merupakan fenomenal.
Rasa penasaran langsung membayang begitu mata kami melihat singkapan tulang tersebut. Apakah ini? Bagaimana? Darimana? Banyak hal yang menggelantung dipikiran kami. Dengan hati-hati kami coba menyentuhnya dan memegang serta melihat langsung secara utuh dimensi dari beberapa temuan tulang tersebut. Berdiskusi dan berasumsi asal dan proses terbentuknya singkapan tulang tersebut di sungai ini. Mencoba berhipotesis secara spontanitas, menggali dan mempertajam kembali ingatan keilmuan yang didapat ketika kuliah dulu. (berlanjut...pegel ngetiknya..)

12.5.10

Gua Seropan, antara studi dan rekreasional (part 1)

8 mei 2010 lalu saya beserta 4 orang kawan yaitu Madha, Shinat, Icad dan Danang menapaki Gua Seropan yang berlokasi di desa Semuluh kecamatan Semanu kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakata. Keindahan gua ini tercipta dari stalagtit yang menggoreskan eksotisme 3D ornamen dan aliran sungai bawah tanah yang memanjakan mata. Di gua karst yang terbentuk di kedalaman 60 meter di bawah permukaan tanah ini terdapat air terjun yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dengan menggunakan microhydro technology. Banyak potensi yang dapat digali, seperti tinggalan arkeologis yang tersisa dalam setiap lapisan dinding gua tersebut.

Perjalanan berawal dari kampus tercinta FIB UGM, kami berkumpul mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Tujuan utama kami kesana adalah menemani salah seorang kawan yang akan meneliti sebaran fosil tulang hewan yang terdapat di sekitar area downstream sungai bawah tanah Seropan dan cave diving untuk mengungkap sebaran fosil tulang hewan yang terdapat di area upstream Seropan. Perjalanan tidak begitu lama hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Yogyakarta. Sebelum mencapai lokasi, kami sempat mampir di Alfamart kota Wonosari untuk belanja kebutuhan logistik selama di dalam gua.

Tiba di basecamp, kami sowan ke pemilik basecamp (rumah warga) dan disuguhi teh hangat. Selang beberapa menit datanglah 4 orang mahasiswa dari fakultas geografi UGM yang barusaja selesai melakukan penelitian tanah di sekitar gua Seropan. Mereka lalu berkumpul bersama kami menikmati manisnya teh ala desa Semuluh. terjadi pembicaraan yang hangat antara kami dan mereka, terutama Madha yang telah kenal dengan beberapa mahasiswa geografi tersebut. Sengaja kami tidak beergegas menuruni gua karena kami harus mengepak dan men-setting peralatan yang dibutuhkan. Tak terasa bahwa peralatan yang kami bawa ternyata sangat berat2 semua, terutama tiga buah tabung oksigen yang akan digunakan untuk cave diving. Belum lagi peralatan selam yang beratnya setara dengan satu buah tabung oksigen dan peralatan caving yang dibalut dengan 2 tackle bag.

di basecamp


Shinat dan tabung selamnya

Ada hal menarik dari caving kali ini yaitu berpadunya dua aliran caver dalam satu kegiatan yaitu caver american style dan european style. Apa perbedaannya? Caver European Style menggunakan clothing yang full melindungi seluruh body atau dinamakan coverall, sedangkan Caver American Style lebih cenderung menggunakan clothing yang simple dengan setelan kaos oblong dan celana pendek. Saya cenderung memilih American Style karena masalah klasik yaitu tidak ada coverall yang sesuai dengan ukuran badan saya yang kecil mungil,..hehe..

Tak terasa sudah 2 jam kami di basecamp. Saatnya bagi kami pamit kepada pemilik rumah untuk beranjak ke medan yang akan kami tempuh yaitu Gua Seropan. Madha, Shinat, Icad, Danang dan saya berurutan menuruni setiap anak tangga sebelum tiba di mulut gua. Lumayan melelahkan pada trekking pertama karena kami harus menuruni sekitar 60-an anak tangga, belum lagi dengan membawa beban yang super berat. Saya kedapatan ditugasi membawa satu set perlengkapan diving milik Shinat, beberapa bungkus logistik dan tentunya ransel saya sendiri. Sedangkan yang lain membawa 3 buah tabung selam, 2 tackle bag dan bawaan masing-masing.

American Style alias serba terbatas

Rutinitas seperti ini seringkali dijumpai pada mereka yang menekuni kegiatan penelusuran gua. Membawa beban yang berat yang didalamnya berisi peralatan akses naik dan turun gua, logistik makanan dan set pakaian. Belum lagi jika penelusuran bersifat keilmuan, harus menambah beberapa item yang dibutuhkan seperti skala mulai yang tongkat hingga yang kecil, writeboardmini, meteran, kompas dan kamera. Kebutuhan tersebut merupakan standar kegiatan yang diwajibkan. Beban berat seperti diatas bukanlah halangan untuk penggiat gua karena akan ada timbal baliknya ketika telah berada di dalam. Pada umumnya mereka yang menelusuri gua menganggap kegiatan tersebut sebagai rekreasional, yaitu menikmati keindahan gua melalui bentukan stalaktit, stalagmit serta indahnya entrance dan chamber yang dipenuhi teras ornamen-ornamen lintang. Sedangkan secara spesifik, penelusuran gua dapat bersifat keilmuan dilihat dari segi geografi, geomorfologi, geologi, arkeologi, mikrohidro dan masih banyak lagi cabang ilmu yang dapat diperoleh ketika penelusuran gua.

Mahasiswa selaku pembelajar dan penggiat alam, seringkali membenturkan dua pandangan tersebut menjadi satu. Hal ini biasa dijumpai oleh mahasiswa yang memiliki bidang keilmuan yang terkait dengan gua seperti yang telah dijelaskan diatas. Proses tersebut dimulai ketika mereka mulai memasuki ranah skripsi. Padahal sebelumnya cenderung kegiatan caving lebih kepada rekreasional saja. (berlanjut..pegel ngetiknya)

1.12.09

Freesoloing Climbing

See this For the Madness..Lol..

If a climber wants to risk his life, that's his decision, but to encourage anyone to solo is to reserve a place in hell. Consequently, talking about free soloing makes me a little edgy. It also makes my palms sweat. I've soloed just enough to know both the beauty and the horrors of the venture, and am leery of over- or understating either side.

Scrambling unroped over easy terrain is a required part of climbing. 'Third classing" routes approaching your technical limit is not. Yet climbers do solo, and will continue to solo. So to ignore the topic altogether, to withhold information that possibly could save a person's life, seems recklessly mean and narrow-minded. Instead, I will pass on all that I can, hoping to limit the genuine risks.

No one argues that soloing is climbing in its purest form. That so few soloists fall suggests that sober, calculated judgement prevails over the naive notion of the foolish daredevil going off half-cocked. Herman Buhl, Reinhold Messner, Royal Robbins, and more recently, John Bachar and Peter Croftsome of the true legends of our sport-all have reputations fashioned, in part, from soloing. Still, while we laud these climbers, a definite taboo shrouds their exploits. Certainly, difficult soloing is reserved for the full-blown expert, for those who eat, sleep, and drink climbing. But even for accomplished soloists the practice is a minefield full of clear and subtle dangers. The likelihood is much overstated, but one should never get lured into soloing through peer pressure or dubious ambitions, like achieving fame. It's undeniable that many active climbers routinely solo easy, or even moderate, routes. A few solo desperate routes (5.11 and up). But I've also known plenty of world-class climbers who never solo, no matter how easy the terrainand if anything, their reputations have grown from their forbearance. The point is, soloing is one aspect of the sport where you cannot, or should not, emulate other climbers.

What then, is the lure? By dint of the frank jeopardy involved, soloing evokes feelings of mastery and command, plus a raw intensity that even a million-dollar-a-year ball player will never experience: not in the Super Bowl; not in the World Series; not on center court at Wimbledon. And therein lies the snare. Following a particularly rewarding solo, when everything has clicked, the climber feels like a magician. These feelings can actually foster a sham sense of invincibility. Hence, it's not unheard-of that a narrow escape is followed by an eagerness to push things just a tiny bit further, and so on, until the soloist is courting doom. And he'll most assuredly find it if he doesn't quickly back off. The whole insidious business is closely tied to anything that is exhilarating, deadly, and fiendishly addictive. Whenever desire overrides judgement, bad things happen. If the soloing fool is fortunate, he'll have a harrowing close call, and he won't be the first to swear, "Never again!"

On the other hand, soloing has provided me with some of the sharpest, and greatest, experiences of my climbing career. Particularly on longer routes, the charged mix of fear and focus strips away any masks, exposing the most fundamental self. It's one way of finding out, once and for all, who you really are. It's also a sure way to die if so much as a single toehold pops. Understand this: The potential penalties simply are too high to rationalize risking your life to scale a section of stone. Wrap your reasoning in rarefied language, and maybe you'll touch on a vague truth. It's also true that my friend Tobin Sorrensona talented, beautiful, and outrageous young mandied while soloing the North Face of Mount Alberta. His death, at age 24, showed me the unforgiving side of the game, minus all the poetry and shimmering sunsets. It was a personal revelation of another, perhaps more significant kind. You just want to slog home and hug your child, kiss your wife, call your momtell someone you care about how much you love them. So when you're at the base, gazing up at the rock, review the soloist's code: "If there is any doubt about it, forget it!" If you do cast off, make certain you're doing so for your own good reasons.

How To Rock Climb: Sport Climbing by John Long. 1997. Falcon Guide

27.11.09

STRATEGI PENANGGULANGAN BANJIR PADA MASA JAWA KUNA ABAD X-XI

Sebuah Makalah Persembahan Dari Rizal Dhani

A. Latar Belakang
Keadaan geografi pulau Jawa yang memiliki gunung-gunung api dan sungai membuat tanah menjadi subur. Potensi ini didukung oleh curah hujan yang rata-rata cukup banyak (±2000 mm per tahun), khususnya di Jawa dan Indonesia pada umumnya, menyebabkan rata-rata kelembaban udara yang cukup tinggi pula. (Sutikno:1993) Pada masa Jawa Kuna terdapat beberapa kerajaan seperti Kerajaan Mataram Kuna, Singasari dan Kadiri dan Majapahit. Mayoritas masyarakat kerajaan tersebut memiliki mata pencaharian sebagai petani. Kondisi ini didasari oleh tanah-tanah di pulau Jawa yang relatif subur. Hal ini karena banyaknya gunung-gunung api serta curah hujan yang tinggi. Kerajaan pada masa lalu sepertinya memperoleh pendapatan dari hasil pertanian. Pendapatannya kerajaan-kerajaan agraris diperoleh dari pengumpulan hasil bumi, upeti dari raja bawahan dan denda dari putusan peradilan dan pajak (Dwiyanto: 1993).

Akan tetapi karena curah hujannya relatif tinggi menyebabkan lahan pertanian penduduk dari masa jawa kuna bahkan sampai saat ini sering terjadi banjir. Kerugian yang diderita oleh petani sangat besar karena untuk mengolah sawah sangat menyita waktu dan tenaga. Karena para petani harus melewati tahapan dalam mengolah lahannya (Abu: 1990). Banjir yang terjadi tidak hanya berpengaruh terhadap pertanian saja, melainkan juga menyangkut bidang lain seperti perdagangan dan religi. Adanya banjir juga mengurangi pendapatan kerajaan dari sektor pajak (Djoko Dwiyanto: 1992). Dampak banjir dibidang perdagangan adalah macetnya jalur lalu lintas air, sehingga pedagang tidak dapat menjalankan aktivitasnya. Pada bidang religi adalah banyaknya tempat atau bangunan suci yang rusak dan hancur akibat terkena banjir.
B. Rumusan Masalah
Banjir merupakan fenomena yang terjadi dimana suatu wilayah atau sistem pengairan tidak mampu menampung limpahan air. Sawah atau lahan pertanian biasanya terletak di tepi sungai atau memiliki sungai sebagai pengairan. Sehingga jika sistem pengairan tidak mampu menampung air maka akan terjadi banjir dan sawah akan terkena dampaknya. Jika sebuah lahan pertanian terkena banjir maka segala tanaman akan basah dan layu sehingga akan mati. Dengan kondisi ini, maka petani akan dirugikan oleh adanya banjir. Sehingga akan menghambat pertanian. Selain itu dampak banjir juga berpengaruh pada bidang perdagangan, bidang religi bahkan pendapatan kerajaan dari sektor pajak juga ikut terpengaruh. Oleh karena itu para korban banjir pasti akan mencari solusi atau strategi untuk penanggulangan bahaya banjir. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai strategi penanggulangan banjir pada masyarakat jawa kuna. Adapun pertanyaan yang muncul untuk memecahkan permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Apa strategi yang digunakan untuk menanggulangi banjir yang terjadi pada masa Jawa Kuna abad V-XI?
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penalaran Induktif. Metode penalaran induktif merupakan pemecahan masalah dengan mendeskripsikan data dan diakhiri dengan kesimpulan tanpa menggunakan hipotesis. Langkah-langkah penelitian dalam makalah ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama adalah mengumpulkan data. Data yang digunakan adalah prasasti dan data sekunder lainnya yang diperoleh dari skrisi, buku dan artikel. Tahap yang kedua adalah pengolahan dan analisis data-data yang telah diperoleh. Tahap yang ketiga atau tahap yang terakhir adalah penarikan kesimpulan.


STRATEGI PENANGGULANGAN BANJIR PADA MASA JAWA KUNA ABAD V-XI
(Kajian Terhadap Prasasti Tugu Abad 5 M, Bakalan 934 M, dan Kamalagyan 1037 M)
Meskipun air dari sungai mempunyai manfaat yang besar, baik untuk pertanian, lalu lintas dan kebutuhan manusia yang lain, akan tetapi keberadaan sungai itu sendiri perlu mendapatkan perhatian khusus didalam pengelolaannya. Pengelolan sungai disamping untuk memenuhi kebutuhan manusia juga dimaksudkan untuk menghindari adanya bahaya yang dapat ditimbulkan dari sungai tersebut, yaitu bahaya banjir. Banjir merupakan peristiwa alam yang terjadi akibat melimpahnya air yang ada dipermukaan. Sebab-sebab banjir dikarenakan tidak mempunyai sungai untuk menampung air, kurangnya tingkat peresapan tanah, dan lebih rendahnya permukaan daratan dari pada permukaan air. Selain pada masa kini ternyata banjir juga pernah terjadi pada masa Jawa Kuna. Berikut ini adalah prasasti-prasasti yang memuat informasi tentang penanggulangan banjir pada masa Jawa Kuna, diantaranya prasasti Tugu abad ke-5 M, prasasti Bakalan 934 M dan Prasati Kamalagyan 1037 M. Adapun kutipan dari masing-masing prasasti adalah sebagai berikut:
A. Prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh raja Punawarman:
1. Pura rajadhirajena guruna pinabuna
2. Khata khyatam purim prapya candra bhagarnnavam yayau…
7. dvavincena nadi ramya gomati nirmaludaka
8. pitamahasya rajarser widaraya cibiravanim
(Poerbatjaraka: 1951 dalam Wiwig Wimbo W: 1998)
Terjemahan:
1. Dulu raja yang mulia yang mempunyai lengan yang kuat
2. Menggali sungai bernama Candrabhaga buat mengalirkannya kelaut, setelah (kali ini) sampai di istana yang termasyur…

7. Menggali sungai Gomati permai dan berair jernih
8. Setelah sungai itu mengalir ditengah-tengah kediaman sang pendeta nenekda (Sang Purnawarman)
(Poerbatjaraka: 1951 dalam Wiwig Wimbo W: 1998)
Pembuatan saluran di Gomati dan Candrabhaga dapat diinterpretasikan sebagai usaha raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara didalam upaya mengendalikan aliran sungai dan mengatasi banjir yang disebabkan oleh meluapnya air di daerah tersebut sehingga perlu dibuat saluran untuk mencegah terjadinya banjir. Interpretasi ini didasarkan pada analogi dari isi prasasti yang menyebutkan penggalian saluran air yang dilaksanakan pada bulan Caitra yang merupakan bulan pertengahan Maret hingga pertengahan April. Bulan tersebut merupakan akhir dari musim hujan dan permulaan musim kemarau. (Ph. Subroto: 1985). penggalian ini kemungkinan untuk menanggulangi banjir sebagai akibat berdasarkan pengalaman banjir pada musim hujan, yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya.
B. Prasati Bakalan 934 M atau Prasasti Wulig
8. “…Rakaryan Binihaji Rakaryan Mangibil
9. Pagehaken ikang dawuhan katrini I halunan
10. I wuatan wulas I wuatan tamya
11. irikana dawuhan muang umajara kamu tepangu
12. pullakna dawuhan telyenu Ikana weluran
(J.L.A. Brandes:1913 dalam Wiwin Wimbo W: 1998)
Terjemahan:
8. “…Rarakaryan Binihaji Rakaryan Mangibil
9. memerintahkan membuat bendungan di tiga tempat, yaitu di kahulunan
10. di Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya
11. di sana bendungan itu dan memberitahu (mereka) memegang teguh itu dari keinginan untuk
12. mengalirkan air dan menyatukan 3 bendungan disana
(J.L.A. Brandes:1913 dalam Wiwin Wimbo W: 1998)
Prasasti ini berisi perintah Rakaryan Binihaji Rakaryan Mangibil untuk membuat tiga bendungan di daerah Kapulungan , Wuatan wulas , dan Wuatan Tamya. Dalam prasati ini memang tidak disebutkan bahwa bendungan dibuat untuk penanggulangan banjir. Namun berdasarkan kondisi geografis di pulau Jawa memiliki curah hujan tinggi dimungkinkan salah satu fungsi dari pembangunan bendungan ini adalah untuk penanggulangan banjir
C. Prasasti Kamalagyan 1037 M yang dikeluarkan pada masa Raja Airlangga:
7. “… Sambandha, cri maharaja madamel dawuhan ring waringin sapta imahnikanganak ri kamala
8. gyan punyahatu tan swartha, kahaywaknaning thani sapasuk hilir lasun palinjwan. Sijanatyesan panjiganting talan. Dacapangkah. Pangkaja. Tka ring simarasirna. Kala, kalagyan, thani jumput. Wihara ca
9. Ia, kumulan, parahyanganm parapatan, makamukyabhuktyan. Sang hyang dharma ringicanabhawana mangaran I surapura, samangkana kwehnikang thani kawahan kededetan cariknya denikang kanten tmahan bangsawan amgat ri wa
10. ringinsapta, dumadyakan unanikang drabyhaji mwanghilang nikang carik kabeh, aphan dulabha kawnanganikatambakaning bangsawan amgat de parasamya makabeh, tan pisan nambak parasamya…”
13. “ring parapuhawang prabanyaga sangkaring dwipantara, samanunten ri hujung galuh ikang anak thani sakawahan kadedetan sawahnya, atnyanta sarwwasukha ni manahnya makantangka sawaha muwah sawahnya kabeh an pinunya
14. ri tambak hilinikang bangawan amgat rig waringin sapta de cri maharaja…”
(Brandes: 1913 dalam Wulandari: 2001)
Artinya:
7. “…(demikianlah) sebabnya Sri Maharaja membangun bendungan Waringin Sapta di desa Kamala
8. gyan untuk kesejahteraan desa Lasun, Palinjwan, Sijatatyesan, Panjiganting Talan, Dacapangkah, Pangkaja, hingga semua tempat (sima) itu musnah, kala, kalagyan, thani jumput, wihara, ca
9. Ia, kamulan, Parhyangan, Parapatan, tempat suci yang bernama Icanabhawana di Surapura, begitulah pemberian (pembuatan bendungan) yang berkali-kali terkoyak oleh bengawan yang bercabang di Wa
10 ringin sapta, tiba-tiba semua milik raja menjadi hancur, tidak hanya sekali pembuatan tnggul oleh pejabat setempat…”
13. yang menghubungkan antara pulau, berkumpul semua di Hujung Galuh, penduduk desa yang sawah tanahnya terkena banjir menjadi senag hatinya karena berakhirnya banjir itu sehingga hasil sawahnya dapat dimiliki dengan
14. ditanggulnya aliran sungai Waringin Sapta oleh Sri Maharaja…”
(Wulandari: 2001)
Banjir dalam prasasti Kamalagyan disebutkan terjadi berkali-kali. Maksudnya mungkin banjir tersebut terjadi setiap tahun atau setiap musim hujan. Didalam prasasti tertulis bahwa banjir tersebut memusnahkan tempat suci dan wilayah desa termasuk juga sawah. Dalam artian bahwa banjir tersebut benar-benar besar, hingga kemungkinan merusak lahan pertanian Jawa Kuna. Disebutkan pula sejumlah sima yang mengalami banjir yaitu Kala, Kalagyan, Thani Jhumput, Wihara Cala, kamulan, dan parapatan (Soekmono 1973). Sumber banjir itu adalah meluapnya Sungai (Bengawan), yang menurut Soebroto ialah sungai Brantas. Sungai Brantas merupakan salah satu sungai di Jawa Timur yang sistem setiap tahun menimbulkan ancaman bagi para petani karena selalu meluap pada musim hujan (Soebroto: 1985).
Melihat dari isi prasasti tersebut, prasasti kamalagyan dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada saat pembangunan Bendungan, yang dibangun untuk menanggulangi banjir. Dalam hal ini bendungan yang dibangun adalah bendungan di daerah Waringin Sapta aliran cabang dari sungai bengawan atau sungai Brantas. Pembangunan bendungan dilakukan untuk menanggulangi banjir yang sering terjadi dan menghancurkan tanggul yang telah ada, sehingga banyak sawah yang rusak dan sungai tidak dapat dilewati perahu para pedagang.
Faktor penyebab banjir di wilayah Waringin Sapta disamping hujan yang cukup deras, juga karena peran sungai tehadap material gunung berapi. Material gunung berapi yang keluar akibat letusan gunung berapi yang ada disekitar aliran sungai Brantas, (misalnya gunung Wilis, gunung Welirang, Gcunung Kelud, dan gunung Anjasmoro) yang terendap oleh media sungai Brantas.
Dari prasasti kamalagyan juga dapat diketahui, bahwa banjir di Waringin Sapta telah sering ditanggulangi dengan pembuatan bendungan oleh masyarakat setempat. Namun tidak juga berhasil diatasi, bendungan yang dibuat ikut hancur diterjang banjir. Melihat permasalahan yang tidak juga selesai dan sangat merugikan ini, Maka Raja Airlangga berkenan turun tangan menangani bencana tersebut. Penanganan yang dilakukan oleh Raja Airlangga adalah pembuatan bendungan untuk memperbaiki tanggul yang selalu rusak. Pada intinya prasasti Kamalagyan dikeluarkan oleh Raja Airlangga untuk memperingati pembangunan bendungan di Waringin Sapta. Pembangunan bendungan dilakukan untuk menanggulangi banjir yang setiap tahun datang dan merusak tanggul yang telah ada, serta banyak merusak sawah, bangunan suci serta mengacaukan perdagangan.

KESIMPULAN
Dari hasil analisis terhadap tiga prasasti tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa pada masa jawa kuna sudah dikenal sistem pengelolaan air. Usaha-usaha untuk mengelola air, tampaknya menjadi pusat perhatian dari penguasa-penguasa kerajaan. Hal ini ditunjukkan dengan ditemukannya beberapa prasasti yang menyebutkan tentang pengelolaan air, seperti pada prasasti yang menjadi kajian pada makalah ini. Dari isi ketiga prasasti tersebut dapat diketahui strategi penanggulangan banjir pada masa Jawa Kuna abad V sampai abad XI Masehi. Adapun strategi yang digunakan untuk menanggulangi banjir adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan aliran sungai yang dialirkan ke laut. Air yang melimpah dapat mengalir kelaut sehingga dapat terhindar dari bahaya banjir.
2. Pembuatan bendungan. Air sungai yang meluap dapat tertahan oleh bendungan sehingga air tidak menggenangi sawah maupun pemukiman penduduk. Air sungai tersebut kemudian dialirkan ke sawah-sawah melalui jaringan irigasi.

DAFTAR PUSTAKA
Abu. Rifai, Dkk. 1990. Teknologi Pertanian Sebagai Tanggapan Terhadapa Lingkungan di Cianjur. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya.
Soekmono. 1974. Candi, Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Subroto, Ph. 1985. Sistem Pertanian Masyarakat Tradisional Pada Masyarakat Jawa Tinjauan Secara Arkeologis. Proyek Penelitian dan Pengajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi).
Sutikno. 1993. Kondisi Geografis Keraton Majapahit. Dalam Prof. Sartono Kartodirjo “700 Tahun Majapahit (1293-1993) Suatu Bunga Rampai”. Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur.
Wimbo Widayati. W. 1998. Upaya Pelestarian Pada Masyarakat Jawa Kuna Berdasarkan Prasasti Abad V-XV M. Skripsi Sarjana. Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Wulandari Naning. 2001. Upaya Peningkatan Hasil Pertanian Pada Masa Jawa Kuna Abad IX-XV. Skripsi Sarjana. Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

SISTEM PENGUBURAN MEGALITIK DI GUNUNG KIDUL (Kajian Situs Kajar, Sokoliman, dan Bleberan)

Sebuah Makalah Persembahan Dari Rizal Dhani

A. Pendahuluan
Latar Belakang
Peninggalan Tradisi megalitik di Daerah Istimewa Yogyakarta ditemukan didaerah kabupaten Gunung Kidul. Peninggalan tersebut berupa kubur-kubur peti batu, batu-batu tegak , arca-arca menhir serta lumpang batu. Penelitian terhadap tinggalan di daerah ini telah dilakukan oleh Vanderhop tahun 1935. Kubur batu di Gunung Kidul ditemukan di daerah Kajar, Wono Budo, Playen, Bleberan, Sokoliman, Gunung Abang dan Gunung Gondang. (Bagya Prasetyo dkk: 2004)
Salah satu konsepsi kepercayaan yang sangat menonjol dalam masyarakat prasejarah di Indonesia adalah sikap terhadap kehidupan sesudah mati. kepercayaan yang berlatar belakang animisme dan dinamisme tersebut mempunyai anggapan bahwa roh seseorang dianggap mempunyai kehidupan dialamnya tersendiri sesudah meninggal, sehingga perlu diadakan upacara-upacara sebelum dikuburkan. Konsepsi kepercayaan yang paling menyolok dalam kaitannya dengan upacara kematian adalah sistem penguburan, terutama bagi mereka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat. Sistem penguburan tersebut biasanya dilakukan secara langsung (Primer) maupun tidak langsung (sekunder) dengan menyertakan bekal kubur berbentuk benda-benda pusaka, senjata, perhiasan, dan mungkin juga makanan yang diletakkan dalam periuk-periuk sekitar mayat. Bekal kubur tersebut kadang-kadang juga berupa binatang (anjing, babi) dan manusia yang khusus dikorbankan dengan maksud agar arwahnya dapat ikut serta dengan roh si mati ke alam baka. Kehidupan di alam arwah dipandang sama keadaannya dengan dunia orang hidup, oleh karena itu kesejahteraan arwah harus tetap terjadi untuk menjaga kelangsungan hubungan dengan orang-orang yang ditinggalkan agar dapat terus berlangsung dengan baik (Soejono:1984 dalam Haris Sukendar: 1993).
Sistem religi di Indonesia mulai dikenal sejak adanya pola penguburan sederhana, yaitu menguburkan mayat dekat dengan tempat tinggal sehingga bercampur dengan peninggalan-peninggalan lain seperti alat-alat litik, cangkang-cangkang kerang dan sebagainya. Indikator yang dapat dijadikan petunjuk adanya sistem penguburan didasarkan pada temuan sisa rangka baik yang ada di lingkungan alam terbuka maupun yang ada di gua-gua atau ceruk. (Bagya Prasetyo dkk: 2004)
Permasalahan dan Tujuan
Pentingnya upacara kematian dalam proses hidup manusia telah menyebabkan berkembangnya sistem-sistem penguburan yang berlangsung pada masyarakat prasejarah. Akibatnya pada masa perundagian atau masa akhir prasejarah di Indonesia telah dikenal berbagai bentuk dan sistem penguburan yang beragam. Bukti-bukti tentang adanya berbagai bentuk dan sistem peguburan tersebut telah ditemukan disejumlah situs arkeologi yang terbesar diberbagai tempat di Indonesia.
Permasalahan yang muncul dari hal diatas, sehingga penulis berinisiatif untuk menyusun makalah ini adalah:
1. Bagaimanakah sistem penguburan di situs-situs megalitik di wilayah Gunung Kidul?

Tujuan pokok dari tulisan ini adalah untuk memberikan informasi mengenai bagaimana sistem penguburan megalitik di wilayah Gunung Kidul.

Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penalaran induktif. Metode penalaran Induktif merupakan pemecahan masalah dengan mendeskripsikan data dan diakhiri dengan kesimpulan tanpa menggunakan hipotesis. Langkah-langkah penelitian dalam makalah ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap yang pertama adalah mengumpulkan data. Data yang digunakan merupakan data-data sekunder yang berupa hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan pokok bahasan yang dibahas dalam makalah ini sebagai obyek kajian analisis serta data-data mengenai sistem-sistem penguburan yang ada pada masa prasejarah sebagai acuan dalam proses analisis. Tahap yang kedua adalah tahap pengolahan data. Data-data yang telah diperoleh dianalisis sehingga dapat menjawab permasalahan yang ada. Tahap yang ketiga atau yang terakhir adalah tahap penarikan kesimpulan.


Landasan Teori
Menurut Soejono (1969) sistem penguburan di Indonesia dilakukan dengan beberapa sistem yaitu sebagai berikut:
1. Penguburan langsung (tunggal dan ganda), yang mencakup:
a) Kubur primer tanpa wadah
b) Kubur primer tertutup (dengan wadah)menggunakan: Sarkofagus, Peti Kubur Batu, Kalamba/Waruga, Kamar batu, Struktur seperti Dolmen, dan Tempayan
2. PenguburanTertunda
a) Kubur sekunder tanpa wadah (lengkap dan selektif)
b) Kubur Sekunder tertutup (dengan wadah), menggunakan: Tempayan dan Sarkofagus (lengkap dan selektif).
3. Penguburan kombinasi (tunggal dan ganda)
a) Kubur primer tanpa wadah + kubur sekunder tanpa wadah
b) Kubur primer tanpa wadah + kubur sekunder tertutup (dengan wadah)
4. Penguburan terbuka (kadang-kadang diikuti dengan pengebumian selektif)
Selanjutnya Soejono mengatakan bahwa rangka-rangka pada kubur primer biasanya menunjukkan peletakan mayat dalam berbagai posisi yang terdiri atas 3 sistem utama yaitu sebagai berikut:
1. Posisi terlentang dengan berbagai cara penempatan anggota badan bagian atas.
2. Posisi terlipat atau semi terlipat, termasuk dorsal (terlentang) dan menyamping.
3. Posisi jongkok
4. Posisi sujud (sangat jarang)
(Soejono:1969: dalam Bagyo Prasetyo dkk: 2004)

B. Temuan Kubur di Gunung Kidul
Kompleks kubur peti batu di Gunung Kidul telah diteliti oleh J.L Moens pada tahun 1934, kemudian dilanjutkan oleh van der Hoop pada tahun berikutnya. Peti kubur tersebut antara lain terdapat di Kajar, Sokoliman, dan Bleberan. Pada kubur peti batu di Kajar ditemukan 35 individu bertumpukan pada kedalaman 80 cm dengan bekal kubur beberapa alat dari besi , antara lain arit. Temuan lain berupa cicin perunggu, dan sebuah mangkuk terakota. Pada salah satu rangka ditemukan sebialah pedang besi yang telah patah, dipegang ditangan kiri, sedangkan pada pedang itu sendiri melekat bekas-bekas tenunan kasar. Kubur peti batu yang ditemukan di Bleberan berisi 3 manusia bertumpukan dalam posisi terlentang dengan kepala di sebelah utara. Tiga buah benda besi terletak di atas dada rangka yang paling atas., cincin tembaga,pisau besi, dan beberapa manik-manik tersebar di antara rangka-rangka tersebut. (R.P. Soejono: 1984 dalam Goenadi: 1989). Ekskavasi yang dilakukan van der Hoop pada tahun 1935 di daerah Kajar, Sokoliman, Bleberan, Wonobudo, Gunung Abang dan Gunung Gondang ditemukan peti kubur batu berisi beberapa individu yang dikubur dengan posisi lurus. Bersama kerangka manusia juga ditemukan pula benda-benda dari besi dan fragmen perunggu, manik-manik serta benda-benda dari gerabah. (Bagya Prasetyo dkk: 2004)
Penelitian selanjutnya adalah pada bulan November 1985 dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta terhadap peti kubur batu di Sokolima. Dalam penelitian tersebut digali 3 kubur peti batu yang berkode D22A, D22B, dan D24B yang keaadaannya dianggap paling baik meskipun seluruh kubur tersebut terdiri atas pecahan gerabah(kereweng), tulang manusia, tulang hewan, fragmen logam, manik-manik, dan arang (Goenadi dan Haris Sukendar: 1986 dalam Goenadi 1989). Dari analisis terhadap temuan fragmen tulang manusia (setelah dianalisis) diketahui bahwa dari kubur D22A terdapat individu dan dari D22B ditemukan 5 individu, sedangkan dari D24B tidak dapat diidentifikasikan karena pecahannya sangat kecil. Hasil analisis tulang hewan terdapat 3 jenis hewan yaitu: Babi, banteng, dan rusa (Goenadi:1989).

C. Analisis Kubur
Pola hubungan Anatomis antara berbagai jenis tulang yang membentuk rangka dapat menujukkan posisi, sikap, bentuk perlakuan mayat/rangka (perlakuan pertama atau perlakuan kedua), dan orientasi mayat ketika dikubur. Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, terlihat bahwa semua penguburan di Gunung Kidul dilakukan dengan sistem penguburan langsung. Tulang-tulang yang ditemukan di situs-situs Gunung kidul ditemukan utuh walaupun sudah rapuh dan dalam posisi tertumpuk. Tidak ada indikasi adanya penguburan tertunda, ciri-ciri mayat yang dikubur tertunda akan memperlihatkan gejala susunan tulang yang tidak berhubungan secara anatomis (Soeprijo: 1982 dalam Lutfii: 2006), tidak berartikulasi, atau tidak lengkap (Soejono: 1977 dalam Lutfi: 2006), atau hanya diwakili oleh bagian-bagian tertentu dari rangka (Lutfi: 2006).
Selain itu, bukti yang menguatkan penguburan dilakukan secara langsung adalah semua penguburan dilakukan dengan wadah yang berupa peti kubur batu. Disebut peti kubur batu karena wadah kubur ini berbentuk seperti peti yaitu terdiri dari sebuah alas yang dibatasi dengan dua dinding memanjang dan dua buah dinding melebar serta dilengkapi dengan sebuah tutup. Masing-masing bidang terbuat dari lempengan-lempengan batu. Tidak ada temuan yang memperlihatkan penguburan sementara, seperti penguburan yang dilakukan didalam tempayan.
Berdasarkan data-data penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dalam satu wadah kubur ditemukan lebih dari satu rangka dengan posisi mayat diletakkan secara membujur lurus dengan keadaan terlentang namun karena terbatasnya data yang didapat tidak diperoleh keterangan secara lengkap mengenai sikap-sikap tubuh si mayat ketika dikubur.
Penguburan di Gunung Kidul juga dilengkapi dengan berbagai benda penyerta sebagai bekal kubur. Bekal kuburnya antara lain benda-benda dari besi dan fragmen perunggu, manik-manik, benda-benda dari gerabah tulang hewan, fragmen logam, dan arang. Adapun pengertian bekal kubur adalah berbagai perlengkapan atau jenis benda yang biasanya disertakan bersama mayat dalam satu penguburan (Joukowsky: 1980 dalam Lutfi: 2006), baik yang dilakukan pada penguburan langsung maupun tidak langsung, mencakup benda-benda upacara, perhiasan, hewan peliharaan, dan mungkin saja manusia (budak atau musuh) yang sengaja dikorbankan (Soejono:1977 dalam Lutfi: 2006). Bekal kubur umumnya diletakkan disisi atau berdampingan dengan mayat, atau dapat pula diartikan sebagai benda-benda yang diposisikan secara sengaja bersama mayat, tetapi bukan merupakan bagian dan struktur kubur atau peralatan yang digunakan untuk membawa mayat (Clark: 1975 dalam Lutfi 2006).

D. Kesimpulan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem penguburan megalitik pada masa prasejarah yang dilakukan di Gunung Kidul adalah sistem penguburan langsung (Primer) dengan menggunakan wadah yang berupa peti kubur batu. Penguburan juga dilengkapi dengan bekal kubur yang berupa benda-benda dari besi, fragmen perunggu, manik-manik, benda-benda dari gerabah tulang hewan, fragmen logam, dan arang. Di gunung kidul tidak ditemukan sistem penguburan sekunder atau penguburan tidak langsung. Hal ini tampak pada temuan tulang atau rangka manusia disitus megalitik Gunung Kidul, tidak ada yang ditemukan dalam wadah sementara seperti periuk.
Melihat dari temuan-temuannya dapat diketahui bahwa dalam prosesi penguburannya sudah ada upacara-upacara sebelum dikubur. Hal ini dapat dilihat dari bekal kuburnya yang berupa tulang hewan dan benda-benda gerabah, dimana keduanya merupakan perlengkapan pada upacara-upacara pada masa prasejarah bahkan sampai pada masa Hindu masih ditemukan.

DAFTAR PUSTAKA
.
Lutfi Yondri. 2006. Analisis Kubur Prasejarah Temuan Dari Gua Pawon. Kars Citatah, Kabupaten Bandung. Dalam Arkeologi Dari Lapangan Ke Permasalahan. Jawa Barat
Nitihaminoto Goenadi. 1989. Bentuk-bentuk Gerabah Kubur Peti Batu Sokoliman: Hubungan Dengan Tahap Penguburan. Berkala Arkeologi.
Prasetya Bagya, Dkk. 2004. Religi Pada Masyarakat Prasejarah di Indonesia. Kementrian Kebudayaan Dan Pariwisata Proyek Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi. Jakarta
Sukendar Haris. 1993. Benda-Benda Logam pada Tradisi Megalitik di Indonesia (Kajian Peranan dan Fungsi). AHPA IV. Jakarta: Puslit Arkenas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


26.11.09

History of Aid Climbing

Did you know about Aid Climbing?? Check this out!!...

Some climbing historians date the origin of aid climbing to June 1492, when France's Charles VIII ordered his chamberlain, Antoine de Ville, and a handful of companions to scale Mont Aiguille (6,783 feet). To reach the summit of what was previously believed to be an unassailable peak, the de Ville party used aid in the form of wooden ladders.

Most climbers, however, view the 1786 ascent of Mont Blanc, which also required wooden ladders, as the true beginning of aid climbing. In the eighteenth and nineteenth centuries, it was not uncommon for guides and porters to lug heavy wooden ladders to the base of difficult rock steps.

Artificial aids were scorned by many climbers, and as alpine clubs were organized, opposition grew to what mountaineer Geoffrey Winthrop Young termed "publicity stunting and mechanical acrobatics."

Despite such vocal opposition, history is replete with accounts of artificial climbing on many important first ascents prior to the twentieth century. In Yosemite, aid was used by Scotsman George Anderson to ascend the "inaccessible" Half Dome in 1875. In an engineering feat that took six weeks, he drilled bolts in the granite dome and strung a rope ladder to the summit. The oft-photographed Devil's Tower in Wyoming received its first ascent in 1893 via a 350-foot wooden ladder hammered into cracks.

Aid climbing really started to take hold after the turn of the twentieth century, spurred by improvements in equipment, especially pitons and carabiners. Used in conjunction with the climbing rope, better equipment permitted better technique. Europeans, who had been responsible for most of these advances, could now attack steeper, more difficult faces. Some of the great spires of the European Alps were climbed, though not without a price. The death toll soared as climbers tried to push their equipment beyond its limits.

It would take a Swiss-born blacksmith named John Salathé to upgrade the equipment for the next climbing breakthrough. Salathé moved to California and began a climbing career at age forty-six. He discovered that the soft iron pitons imported from Europe were no match for the hard granite cliffs of Yosemite. One day he was climbing a crack that narrowed to almost nothing. Upon closer investigation, he saw a blade of grass growing out of the minute crack. "If a blade of grass can come out," he thought, "a piton can go in." But when he tried to drive in an iron piton, it just bent.

Using his knowledge as a metal worker, Salathé hand-forged a piton from strips of high-strength carbon steel salvaged from discarded Model A axles, creating the first hard steel pitons in the world. Then he returned to the tiny crack. As he later told the story in his heavy Swiss accent, "I took my piton and I pound and pound, and it goes into the rock." Salathé, whom Yvon Chouinard would call "the father of big-wall climbing," was now able to nail up hitherto hopeless cracks and thus avoid the need for bolts. Even today, fifty years later, Salathé's Lost Arrow design is regarded as the best for small pitons.

The effect was to revolutionize both free climbing and aid climbing. Freed of the burden of lugging extra backup pitons to replace ruined ones, climbers were able to carry more food and water, allowing them to attempt longer and more arduous faces. The twelve years after the introduction of Salathé's pitons saw every major cliff in Yosemite climbed: Lost Arrow Spire in 1946; Sentinel Rock in 1950; the great Northwest Face of Half Dome in 1957; El Capitan in 1958. It was the realization of what climber-photographer Galen Rowell would call "Yosemite's potential as the ideal locale for testing human limits on rock."

In the early fifties, California climber Chuck Wilts invented the knife-blade piton, using chrome-molybdenum aircraft steel for the first time. These pitons, smaller than anything available at the time, could fit in cracks no wider than a dime.

Although most of Europe's major rock faces had been ascended by the time climbing caught on in the United States, Americans now took the lead in aid climbing, especially on big walls. In 1957, when Royal Robbins, Jerry Gallwas, and Mike Sherrick climbed the Northwest Face of Half Dome, it catapulted Yosemite to the forefront of big-wall aid climbing, a position it would hold for several decades.

In 1958, in a monumental engineering feat that received a lot of attention, Warren Harding and various partners conquered the South Buttress of El Capitan, the most difficult and technical aid climb in the world. Three years later, Royal Robbins, regarded as the finest aid climber in the world, teamed up with Chuck Pratt and Tom Frost to climb the Salathé Wall on El Capitan, named for their innovative predecessor.

Many climbers today still regard the Salathé Wall as the finest rock climb in the world. And although it has been climbed without aid, most climbers still employ aid moves to scale this classic route.

Royal Robbins and his peers were far from done. In 1964, Robbins, Yvon Chouinard, Frost, and Pratt completed the extremely strenuous North America Wall on El Capitan, which was immediately given the title ''most difficult aid climb in the world." It seemed that each time Yosemite climbers found a new climb, it acquired that reputation.

Yvon Chouinard, like John Salathé, had a huge impact on both equipment design and ethical standards. His invention of the rurp (realized ultimate reality piton), a tiny postage-stamp-sized piton that could fit in a crack no wider than a blade of grass, helped to reduce the need for placing bolts. Chouinard also designed the chock, a piece of hardware that fits securely in a crack or behind a flake, greatly reducing the damage that results from repeated piton placements. In fact, it was Chouinard who spearheaded the movement toward clean climbing that took hold in the seventies.

If Royal Robbins was the most prolific aid climber of the sixties, Jim Bridwell was the dominant force of the seventies and eighties. His ascents of aid routes with names like "Sea of Dreams," "The Big Chill," and "Zenyatta Mondatta" are among the most difficult aid climbs in existence. Perhaps the zenith of aid climbing was Bridwell and team's 1978 ascent of the "Pacific Ocean Wall" on El Capitan. A climb that demanded several tricky aid placementsmainly rurps,
copperheads, and hooksit set the standard for today's strenuous aid climbs.

Also in 1978, free climber Ray Jardine began marketing the Friend, a spring-loaded camming device that gripped a crack to provide a bombproof anchor. Friends and other camming devices have promoted clean climbing and permitted safer climbing of loose, dicey rock.

Today's aid climbers use a variety of protective devices, including cams, chocks, hooks, copperheads, and yes, pitons. Despite significant advances in the quality of climbing equipment, the sport's risk hasn't been totally eliminated. Aid climbers routinely risk falls of a hundred feet or more in their quest for height.

What does the future hold for aid climbing? Clean climbingthat is, without pitonswill continue to grow in step with environmental awareness. As equipment continues to improve, some longer aid climbs will cease to be multiday events, and fewer bivouacs will be needed. And perhaps someone will invent a new gizmo that will replace the destructive but heretofore necessary piton.

Just as long as they don't come up with something that eliminates the actual climbing."

1.11.09

Sang Juru Taman, part 35

sebuah sajak dari Rabindranath Tagore, sangat menyentuh..

oh orang gila, yang mabuk dengan indahnya..
Ketika kau datang dengan pintumu dan bertingkah di depan orang banyak;
Ketika kau kosongkan kantungmu di malam hari, dan jari-jari tanganmu gemeretak karena gemas tak mau peduli;
Ketika kau berjalan di jalan-jalan asing dan bermain-main dengan benda-benda tak berguna.

Tak pernah peduli mengapa dan untuk apa;
Ketika engkau, dalam menggulung layar sebelum badai, kau patahkan dayungmu jadi dua;
Aku mau mengikutimu, Sahabat-untuk mabuk dan binasa.
Telah kulewati hari-hari dan malam-malamku dalam berkawan dengan para tetangga yang selalu bijak.
Pengetahuan yang bertumpuk-tumpuk telah membuat rambutku beruban, dan banyak terjaga telah menjadikan mataku kabur.
Bertahun-tahun aku kumpulkan berbagai potongan dan pecahan beragam benda-benda.
Hancurkan semua itu dan menarilah di atasnya, lalu buanglah semua sampai tiada lagi yang tersisa.
Karena kini aku telah tahu puncak kearifan-yaitu menjadi mabuk dan binasa.
Biarkan segala beban yang memberati itu lenyap, dan biarlah aku sama sekali kehilangan jalanku.
Biarkan badai kekalutan yang ganas datang dan menyapu aku jauh dari tambatan.
Dunia ini dihuni orang-orang yang terhormat, serta para pekerja yang rajin dan cakap.
Ada orang yang menjadi terkemuka dengan mudahnya, ada yang lain menyusul kemudian dengan santunnya.
Biarkan mereka bahagia dan sejahtera, sedangkan aku sama sekali tak berguna.
Karena aku tahu akhir segala kerja-yaitu menjadi mabuk dan binasa.
Sejak saat ini aku telah bersumpah untuk membuang segala hasrat akan pangkat dan derajat.
Kulemparkan segala kebanggaanku akan pengetahuan dan pertimbangan tentang kebenaran dan kesalahan.
Akan aku remukkan bejana kenangan dan aku kibaskan tetes airmata penghabisan.
Dengan busa anggur merah akan kubasuh tawaku dan kujadikan ia cemerlang.
Lencana sopan-santun akan aku renggut dan kukoyak.
Janji suciku sudah tidak mungkin lagi akan berharga-menjadi mabuk dan binasa.
sajak ini saya dapat ketika hunting buku-buku Leo Tolstoy di perpustakaan fakultas ilmu budaya ugm

22.10.09

Pekalongan (semakin) panas

Panas..sebuah kata yg menonjol untuk menunjukkan bayangan mengenai pekalongan..dan itu memang benar sekali..hawa yg berbeda dengan yg saya dapati di jogja. Malam itu kami mulai mengurus perlengkapan ATK hingga pukul 2 pagi, dilanjutkan paginya jam 7 sudah harus siap2 mendroping logistik ATK tersebut ke balai rapat Bapedda Kab Pekalongan. Tanpa sarapan kegiatan berjalan..lengkap dgn kaus hijau oranye plus cocard kami menuju balai rapat. Aku terhenti ketika keringat menetesi mata hingga sdkit mengganggu penglihatan. Tak terasa kaus ku basah kuyup dengan keringat. Ku duduk sebentar dibawah pohon yg tidak begitu besar, setidaknya tubuhku aman dari terpa sinar matahari. Ku buka facebook untuk melihat status kawan2. Isi status2nya beragam, namun yg ku fokuskan yaitu berita seseorang yg baru saja menyelesaikan skripsinya. Mentalku tergugah, seakan ada orang yg mengetuk pintu pikiran,..menoyor kepala,..menusuk tubuh,..entah apa yg intinya mengingatkanku pada tugas akhir itu..(suhu semakin panas saja,hehe..), -dilanjutin bsk aja dh, ngantuk..- 11okt, 02.09 wib

pagi itu aku terbangun lalu mandi dan siap2 meluncur ke 3 desa yg telah ditetapkan dlm rapat semalam. Pagi itu penuh motivasi, melihat daerah baru, orang2 baru, kultur baru, dan tentunya permasalahan baru. Kinerja kali ini lebih berat dr sebelumnya. Problematika yg dihadapi kompleks, jika dikerucutkan maka menonjol 2 problem utama yaitu sifat materialistis wargabelajar dan miskomunikasi dlm tataran struktural. Untuk hal pertama terjadi karena implikasi dr kegiatan2 PBA sebelumnya yg tdk ssuai dgn kaidah pembelajaran. Sblmnya, PBA pernah ada dsini dalam bentuk KKN dan dikoordinir oleh salah satu universitas swasta lokal dan beberapa ormas. Problem dasar ktika itu ialah rendahnya minat warga untuk belajar. Langkah strategis yg mereka ambil dr pemecahan problem tsb ialah memberikan 'motivasi', dlm tnd kutip, yg bersifat materi dlm bntuk uang, makanan, seragam dll. Tanpa disadari langkah trsbt telah mengkultur di masyarakat, mengubah pola pikir ke arah yg salah, tujuan dr pembelajaran telah berubah mulai dr niat untuk tulus belajar membaca menulis menjadi niat mendapatkan uang dan materi lainnya. -mandi dlu- 11okt, 22.05 wib

1hr 20mnt 24s yang mengagumkan

3 detik kemudian suara itu terdengar. namun masih ragu tuk mengucapkan. 4 tahun masih mendekam. perlahan semua terlampiaskan. 1hr 20mnt 24s yang mengagumkan.

ketika jemari itu menekan angka
debar jantung terdengar hingga sudut kota
seakan bibir sulit berkata
IQ menurun drastis
terdiam statis

lidahku kaku ketika ingin berkata
kamu pintar
kita sama sama dewasa
kamu hebat
sungguh ini aku tak kuat
kamu istimewa
sepertinya tidak biasa saja

tapi kamu spesial
Ya

3 Oktober 2009, 03.05 wib, setengah windu dalam 1:20:42 detik..kamu memang baik :)

Cinta

pertama-tama saya menulis catatan ini karena iseng, setiap hari mendengar membaca dan melihat kata cinta. sirkulasi harian hidup saya mulai alarm pagi berdering hingga terkantuk ditemani nyamuk semuanya membicarakan cinta. apa sebenarnya yang menyebabkan semua makhluk hidup di jagat ini membicarakan cinta, bahkan rela hingga menyembah demi ideologi romantikanya. sebuah kata yang amat singkat cukup dengan 5 huruf saja namun telah mampu mengaduk-aduk relung hati manusia. sepertinya menarik untuk menjelaskan cinta dari sudut pandang saya sendiri. *gak sabar tiap hari dengerrr terus...hehe

manusia merupakan makhluk ciptaanNya yang dikaruniai cinta. semua yang diberikan olehNya tentunya memiliki tujuan yang disesuaikan dengan porsi hidup masing2 individu. dengan cinta manusia dapat beranak pinak dan memelihara keturunan. dengan cinta manusia merasakan bahagia. dengan cinta manusia merasakan kesedihan. dengan cinta pula manusia dapat saling membunuh. sebegitu pentingkah cinta dihadapan manusia hingga seringkali mengabaikan penciptaNya. saya rasa iya, manusia yang diberikan hawa nafsu mendayagunakan cinta sebagai alibi untuk memuaskan hasratnya. hal itulah yang seringkali menisbikan keberadaan Tuhan dalam proses cinta terhadap sesuatu.

cinta dalam pengalaman saya adalah ketika indera, jarak dan ruang tidak lagi bersamanya namun mampu mengaktualisasikan imaji seseorang selalu dalam batinnya. ketika seseorang tidak mampu kita hapus dari memori otak kita. ketika rasa sayang terhadap diri sendiri memudar beralih ke seseorang tersebut. ketika merasakan debaran yang hebat disekitar dada saat bersama. dan ketika bersamanya terbesit kalimat "setiap detiknya begitu berharga"...hehehe..

cinta dibutuhkan oleh setiap manusia untuk mendukung eksistensi dirinya dalam hidup, seperti halnya Adam mengeksistesikan dirinya dengan mendapatkan Hawa. namun bukan itu hal utamanya. manusia diberikan tangan berpasangan, diberikan kaki berpasangan, mata dan kuping berpasangan. namun kenapa diberi hati hanya satu. ya itulah agar hati itu mencari pasangannya melalui proses yang dinamakan cinta. proses cinta begitu njelimet, tidak hanya dapat digerakkan dengan sebuah rasionalitas utilitarian yang mengefektivitas dan efisiensi tindakan. namun dibangun dengan pengalaman emosi dan transendental manusia. sepertinya tidak ada satu pun yang dapat mengeneralisasikan arti dan proses cinta. berat euyy..

yang pasti cinta tidak dapat kita paksakan keberadaannya dan kemauannya. cinta juga bukan sekedar perasaan dua insan melepas kasih sayang. tetapi dengan cinta kita dapat menerima ilmu, menambah wawasan dan pandangan terhadap dunia luar. dari mana? dari seseorang yang kita cintai, seseorang yang menyayangi, ikhlas tanpa embel-embel. bagaimana? proses cinta dan perjalanannya membuka cakrawala dunia tentang kehidupan seseorang yang kita cintai. tentulah kita dan dirinya bersatu, maka dunia kita dan dunianya, ilmu kita dan ilmunya, wawasan kita dan wawasannya pun bersatu.

saya memuakkan tragedi cinta yang membatasi kehidupan. mengekang pelakunya dari kehidupan luar. serta memenjarakan ide. karena cinta menurutku bukanlah keinginan, jadi ingat kutipan naskah Bhagavad Gita bahwa 'keinginanmu adalah penjaramu",hehe ingat tuuw... akan tetapi cinta adalah Keharusan setiap manusia menjalaninya. sukses maupun gagal itu merupakan ekses dari pencariannya.
sehingga tidak ada kerugian mencari cinta. bahkan tak apa rela menunggu lama hingga cinta itu datang...*pengalaman neh hehe...

2 oktober 2009, 02.49 WIB, sebotol Nu Green Tea dan alunan James Blunt

8.9.09

Pas Foto 3x4

selembar kertas
ku dapat dengan keringat
ketika itu habis waktu
tak kudapati senyum itu

kecil memang
hanya selembar kertas
hitam putih
berlukis bidadari

selang waktu
berjalan setengah windu
masih kudapati lembaran itu
tersenyum memandangku

tak habis ku lirik setiap terjaga
memandang, berhayal, bercerita
walau kau selalu diam dalam bingkai
entah kapan cerita ini bisa ku mulai



Lawu in loneliness

perjalanan kadang menakutkan, namun disetiap harapan membuat kita berani melawan ketakutan itu

Cinta Alam...
Cinta Kehidupan...
Tanpa melupakan kebesaran Tuhan...


pagi itu jam menunjukkan pukul 08.15 wib. ku angkat tas carrier yang telah ku persiapkan untuk pendakian. salam sebentar kepada mas Budi penjaga Basecamp Cemoro Kandang, lalu ku langkahkan kaki menuju puncak. langkah awal perjalanan ini diawali dengan beratnya beban tas yang menekan punggung hingga memerah. terasa sekali bahwa aku sudah lama tidak berkegiatan seperti ini. matahari masih berada di ufuk timur, tertutupi oleh rimbunnya dedaunan Cemara Gunung dan gesekan dahan Cantigi. kicau burung Perjak keras terdengar disertai kokok ayam hutan.

langkah demi langkah ku lalui, menanjak dan selalu menanjak. sedikit tanah datar yang ku lalui untuk sejenak memanjakan kaki. ku dengakkan kepala untuk melihat jalur, terlihat didepan ratusan anak tangga berbahan tanah dan berkelok-kelok sedang menunggu hentakan kakiku. sementara tubuh ini meronta-ronta datangnya seteguk air mineral sebagai pelepas dahaga. cerahnya cuaca dan terangnya matahari pagi ternyata tidak mampu menerangi jalan yang ku lalui, selalu temaram dan menakutkan. seperti sore hari. karena cahayanya tidak mampu menembus tebalnya dedaunan hutan.

ku lihat jam telah pukul 9.20 wib, tidak lama lagi aku akan tiba di pos 1. istirahat sejenak mendinginkan tubuh yang hampir memuai menahan beban tanjakan. ku lanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di pos 1 Taman Sari Bawah pada pukul 9.40 wib. sepi kosong yang ada hanya ringkikan pohon yang saling bergesek. warung yang ada di pos ini pun tutup. tidak lama aku istirahat di pos ini, mengingat waktu yang masih sangat panjang untuk ke puncak. hanya sebentar minum dan memelihara ke-narsis-an ku, foto-foto.

pukul 9.50 wib langkah kaki sudah menjauhi pos 1. situasi masih sama seperti sebelumnya. Cemara gunung, beringin, dan karet hutan selalu menemani sepanjang perjalanan. semak dan perdu pun tidak hentinya mencolek tubuh yang letih ini. sepanjang perjalanan selalu ku bayangkan bagaimana para pendahulu kita ketika masa Majapahit memilih tempat seperti ini untuk dijadikan petilasan. sementara kondisi geografis dan geomorfologis tidak menunjang untuk landasan sebuah kebudayaan. hayalku terusik ketika seekor burung Kerak melintas di depan. seketika bulu kuduk ku berdiri. entah apa yang terjadi padahal sebelumnya tidak terlintas rasa takut pada diriku. apa mungkin Sunan Lawu dapat menembus batin khayalku hingga meresponnya dengan kedatangan burung tersebut.

mencengangkan, masih saja merinding sementara baru ku sadari tidak ada seorang pendaki pun yang telah ku temui. aku seorang diri. perlahan kaki ku langkahkan setelah burung itu menghilang dari bingkai penglihatanku. sedikit mengurangi ketakutan saat angin datang membuka dahan-dahan dan sinar matahari masuk menerangi jalan, bagai lukisan master pelukis alam Saseo Ono. tak berapa lama pos 2 Taman Sari Bawah terlihat dari kejauhan dan angin datang seakan menyambut kedatanganku. tak lama aku disini, sekitar 15 menit saja. dari sini, sesekali ku lihat jelas puncak Lawu gagah menjulang sebelum tertutup kembali oleh tebalnya kabut.

mendung mendapatiku ktika mulai melangkahkan kaki menuju pos 3 Cokro Srengenge. ku lihat jam tangan menunjukkan pukul 11.38 wib. tingkat kesulitan agak berkurang karena jalur yang landai namun sedikit bervariatif. ku berjalan melewati jurang-jurang dengan vegetasi rapat dan basah. mungkin sebelum aku tiba disini, hujan telah mendahuluiku. tak terasa betis dan paha ku basah, meredakan hangat yang semenjak tadi membelai tubuhku. celana Claw yang melapisi ku pun ikutan basah tak kuasa menahan terjangan air yang berasal dari pucuk-pucuk semak. istirahat ku sebentar dibawah papan peringatan bertuliskan "Hati-hati, Awas Jurang". ku menengok jalan ke depan terbentang jalur yang dinamakan Jurang Pangarip-arip. jalur ini terbentuk berdasarkan kontur morfologi punggungan yang di sebelah kirinya merupakan jurang yang sangat dalam. terpeleset sedikit akan terjatuh dan meninggalkan suara teriakan yang kelam.

kuberanjak dan bergerak melewati jalur tersebut. perlahan dan pasti sambil berdoa keselamatan kepada yang kuasa. dalam kesendirian ternyata manusia begitu lemah, hanya setitik kecil dalam jutaan buku di perpustakaan megah. di kejauhan kulihat kota Karanganyar begitu kecil, seperti kumpulan titik berwarna disertai garis yang menggambarkan jalan. terhitung tiga kali aku istirahat tak kuat menahan beban tas yang berisi tenda, pakaian dan survival kit. ketika istirahat, ku hanya diam mendengarkan suara angin dan gesekan pohon. tarian Rustania, Puspa dan ilalang hutan yang bergerak mengikuti irama angin turut memanjakan mata ini.

beberapa kali ku pejamkan mata hanya untuk mendengar suara ultrasonik yang dikeluarkan binatang-binatang hutan. alangkah indah alam ini ku rasakan ketika itu, tetes air mata tak mampu kuredam dalam kekaguman ini. seakan ku ingin berhenti hidup dan kembali sebagai semak belukar yang mengisi alam raya ini. kekagumanku berhenti seketika saat mencapai pos 3. tubuhku terasa dingin dan kerongkongan sakit karena tidak teraliri air. rupanya aku terlena saat istirahat dengan tidak menenggak setetes air pun. yang kutakutkan hanyalah dehidrasi. salah satu awal dari gejala hypothermia dan edema. dengan cepat ku ambil jaket penghangat dan air mineral dari tas. ku masuk kedalam bilik kecil yang bertuliskan Cokro Srengenge. Berlanjut.....


17.8.09

Apa itu Motif Wadasan??

Pernah dengar motif wadasan?? Mungkin hanya sebagian orang yang tahu dengan motif wadasan, dari sebagian yang tahu mungkin hanya sebagian lagi yang mengerti makna dari motif tersebut. Bagi yang belum tahu, akan saya jelaskan sedikit mengenai wadasan. Saya ambil contoh di Cirebon, karena motif ini berkembang luas di Cirebon.

Motif hias wadasan adalah istilah Cirebon untuk menyebut motif karang. Adapun istilah untuk menyebut motif karang adalah gunungan. Motif gunungan memiliki makna suci yang mengarah pada gambaran kehidupan di alam baka, sebuah kehiduppan yang kekal abadi. Motif gunungan merupakan motif Indonesia asli yang keberadaannya terus bertahan walaupun penetrasi Hindu dan Islam di Indonesia berifat intensif. Pada saat berlangsungnya pengaruh hindu, motif gunungan digambarkan sebagai gunung Meru tempat bersemayamnya para dewa. Motif wadasan pada kepurbakalaan Islam di Cirebon berfungsi simbolik dan dekoratif. Fungsi simbolik motif ditunjukkan oleh letak motif tersebut pada bagian utama benda-benda sakral. Pada benda kelompok ideoteknik misalnya motif tersebut berada pada makam-makam keluarga sultan yang bagian utamanya berupa nisan. Pada benda kelompok sosioteknik motif hias wadasan terdapat pada kereta-kereta kerajaan yang bagian utamanya adalah badan kereta, pada kain batik milik kerajaan bagian utamanya adalah motif batik itu sendiri. Adapun pada benda kelompok teknomik motif hias wadasan ini terdapat pada tamansari milik keluarga kerajaan yang bagian utamanya berupa bukit-bukit buatan. Dengan demikian motif hias wadasan sebalum abad 18 M adapat dikatakan berfungsi sebagai simbol status kebangsawanan.

Fungsi dekoratif motif hias wadasan selain sekaligus melekat pada fungsi simboliknya juga ditunjukkan oleh letak motif tersebut pada bagian pelengkap benda-benda sakral. Dalam konteks benda yang ditempati selain sebagai unsur estesis, motif hias wadasan juga mempunyai kegunaan lain yaitu menggambarkan obyak sesuai konteksnya. Beberapa contohnya yaitu pada Kereta Singa Barong motif hias wadasan hadir untuk menggambarkan bukit karang. Pada hiasan dinding, motif hias wadasan berperan untuk menggambarkan tempat berpijak makhluk hidup yang digambarkan diatasnya.

Setelah abad 18 M motif hias wadasan mengalami pergeseran fungsi, dari simbol status kebangsawanan menjadi tidak. Hal ini dapat diartikan bahwa motif hias wadasan hanya berfungsi dekoratif. Pergeseran ini ditunjukkan dengan adanya beberapa benda purbakala di Cirebon yang mengalami kesinambungan pembuatannya hingga masa kini. Batik-batik kraton setalah abad 18 mulai dibatikkan oleh pembatik di luar kraton. Dengan begitu motif hias wadasan dikenal masyarakat awam, sehingga konsumennya pun meluas, apabila dahulu hanya menjadi konsumsi keraton maka saat ini sudah menjadi milik publik.

Irmawati Johan (1986:367-375) dalam artikelnya di PIA IV, menjelaskan bahwa motif wadasan merupakan bentuk kosmologi yang hakekatnya adalah suatu usaha untuk mengekspresikan gunning Sembang sebagai gunung Meru, tempat eksistensi raja Cirebon sebagai penguasa jagad kecil dan sebagai wakil tuhan didunia dan menjadi perantara rakyat untuk mendapat berkat dari tuhan.

Referensi
Irmawati Johan. Aspek Simbol dari Motif Hias Wadasan di Cirebon. Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1986.

25.7.09

Arkeolog pasti memahaminya

Salah satu daur hidup yang dialami oleh mahasiswa arkeologi adalah mengalami ekskavasi. Hal ini wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan arkeologi. Seringkali kegiatan ini dinantikan oleh mahasiswa. Oleh karena lebih bersifat praktis dan aplikatif. Selain itu juga interaksi antar mahasiswa menjadi semakin intens sehingga kadangkala terjadi semacam cinta lokasi ataupun timbul persahabatan diantara seluruh peserta ekskavasi. Hal itu pasti terjadi pada diri seorang arkeolog. Momen-momen yang tidak bisa dilupakan saat mengikuti kegiatan survai lapangan, ekskavasi hingga pada proses pembuatan laporan. Ternyata setiap tindakan dan kegiatan yang pernah dilakukan saat ekskavasi tersebut masih saja terngiang dipikiran saya. Seperti misalnya saat diskusi bersama setiap malam, begadang mengerjakan laporan maupun bercanda saat sore menjelang setelah selesai ekskavasi. Apa yang saya alami saat ini mungkin juga hampir sama dengan setiap mahasiswa arkeologi yang pernah menjalaninya. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satu hal yang dapat menjelaskan yaitu bahwa manusia merupakan makhluk sosial, segala ide dan tindakan sangat dipengaruhi oleh manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Daya kognitif manusia terbentuk karena adanya respon terhadap lingkungannya. Ketika ingatan kognitif tersebut hilang, maka ia akan muncul kembali ketika jiwa merasa kosong atau cenderung statis. Ingatan tersebut kembali mencuat karena manusia cenderung untuk mencari sesuatu yang baru. Hal inilah yang terjadi, ingatan tersebut seperti cakram yang berputar. Ketika manusia merasa bahagia maka kampas tersebut akan terus mengikat cakram agar jiwa tersebut tidak cepat berubah atau berjalan lamban. Namun saat berada dalam kesepian atau keadaan sedih, maka manusia akan melepaskan kampas tersebut sehingga cakram akan berputar cepat. Saat putaran cakram mengalir cepat inilah daya kognitif yang terekam pada masa lalu sering mencuat kembali. Arkeolog pasti memahaminya.

20.7.09

Etika Panjat Tebing

1. Menghormati adat istiadat masyarakat setempat.

2. Tidak mencemari sumber air penduduk setempat.

3. Tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan erosi.

4. Tidak mengganggu tanaman serta satwa penduduk.

5. Membatasi sedikit mungkin penggunaan bubuk magnesium.

6. Membatasi pemakaian pengaman bor dan setiap penggunaan bor harus dapat dipertanggungjawabkan.

7. Tidak diperbolehkan menambah pengaman pada jalur yang sudah ada dengan tujuan untuk mengurangi tingkat kesulitan.

8. Diperbolehkan mengabaikan pengaman yang ada pada jalur dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat kesulitan.

9. Tidak melepas pengaman yang terpasang pada jalur pemanjatan.

10. Jika jalur baru belum selesai dibuat, harus diberi tanda yang jelas.

11. Jika jalur baru akan diselesaikan oleh orang lain, harus seijin pembuat jalur pertama.

12. Apabila ada pemanjat pada suatu jalur maka sebaiknya tidak ada pemanjat lain pada jalur tersebut.